Jumat, 12 Juli 2013

Nyanyian Rindu Seorang Jelita

Pagi yang kelabu menghadang di ujung pintu
Lembayu merunduk malu kepada sang melati
Udara pagi yang kelam meambah dinginnya rasa yang tlah lalu
Oh Tuhan.. jadikan hari-harinya semakin bercahaya
Dengan hiasan dinding yang tak pernah ia duga

Pagi itu, berjuta-juta rintihan air hujan mengguyur kota Jakarta. Tulisan SMA 15 Jakarta terpampang di depan gedung sekolah itu. Terlihat seorang cewek manis, bertubuh mungil. Ia mempunyai warna  kulit yang kecoklatan, hidungnya mancung karena ia keturunan Arab, dengan rambutnya yang lurus sebahu dan selalu terlihat lipatan pada bahu seragam sekolahnya. Namanya Icha ya… kepanjangan dari Siti Khodidjha. Ia sedang menatap menerawang jauh di balik tirai kaca ruang kelas XI IA 3 di sekolah itu. Ruang kelaspun gaduh, karena guru yang mereka nantikan tak kunjung datang. Si mungil itu tak peduli akan keramaian disekitarny, ia hanya ingin sendiri kala itu, ia hanya ingin merenung, menangis dan teriak.
“heh, Siti… ngelamun aja loe, ngelamunin gue yaaa.. hehehe” goda salah satu teman cowoknya yang slama ini selalu bertengkar dengannya. Icha yang menyadari namanya di panggil hanya melirik kea rah cowok itu namun pandangannya kembali tertuju di balik tirai kaca.  Beberapa detik beberapa menit dan hampir satu jam ia melamun. Tak menyadari kehadiran seseorang di sebelahnya.
“Siti Khodidjah..” panggil orang itu, namun orang yang dituju tak jua menoleh. Sekali lagi ia memanggil “Siti Khodidjah”. Icha pun yang merasa namanya di panggil menoleh kearah orang itu. Dan ternyata beliau adalah bu Endah, guru fisika terkiler di sekolah itu.
“oh eh, ibu sudah ada disini toh..” sahut Icha spontan.
“ohh.. ternyata kamu dari tadi tidak memperhatikan saya.. bagus bagus… sudah, kamu ke luar saja tidak usah mengikuti pelajaran saya”. Suruh bu Endah.
“iya bu” Icha pun hanya pasrah toh, dia juga yang salah.
Dedaunan yang basah karena hujan yang baru terjadi menambah kesunyian di siang itu. Terlihat anak laki-laki kelas sebelah sedang bermain basket di lapangan basket. Di taman sekolah ia-pun duduk termenung sendiri, kembali ke lamunannya yang tadi. “ayah, aku rindu” ucapnya tak jelas. Tak terasa, jatuhlah buliran bening dari rona mata coklatnya. Ia-pun semakin terisak ketika ingat akan kehidupannya sekarang yang begitu menyedihkan. Di rumah, ia yang selalu di marahi oleh bundanya, sampai di sekolah-pun ia tak tenang. Seluruh pelajaran yang ia terima tak sedikitpun bisa  masuk dalam pikirannya. Yang bisa menghiburnya saat ini hanyalah kegiatan dalam salah satu ekstrakulikuler di sekolahnya. Ya, hanya di situlah ia dapat bertahan, karena sahabatnya pun kini tak peduli lagi akan cerita hidupnya.

Berjuta-juta bintang hiasi pesona,
Merajut kata dalam damai,
Langit kian cerah
Bak bayang-bayang cahaya samudra di ufuk barat
Namun sayang, sang qolbu terlanjur menepi…
Tak peduli siapa yang merajut mimpi
Lirih mentari terpaan awan,
Tersandung ombak akan kehampaan
Diterpa agin yang kian kelam….

Terlihat sebuah rumah sederhana nan rindang. Dedaunan mengeluarkan suara ketika diterpa sang angin. Bitang-bintang terlihat sedang tersenyum pada dunia. Cuaca malam itu begitu cerah, langit seakan memberi harapan pada pemuda pemudi untuk melabuhkan kerinduan asmara malam itu. Ya, malam ini adalah malamnya para anak-anak remaja, tepatnya yakni malam minggu. Tak secerah malam ini, hati si cewek mungil malam itu begitu galau. Sepi dan sendiri di kegelapan malam. Sendiri di atas ayunan, dan melamun di pilihnya karena tak ada lagi yang bisa ia lakukan malam itu. Pandangan kosong menerawang ke belakang, menyelinap ke dalam relung-relung hati berisi kerinduan yang mendalam yang tak pernah ia kira selama ini. Jemari-jemari mungilnya kian erat menggeggam sebuah kotak mungil. Setitik butiran-butiran bening membasahi pipinya yang lembut. Ayah, aku rindu padamu, ucapnya dalam hati.
“Ichaa…” teriak bundanya dari dalam rumah. Namun, ternyata yang di panggil tak jua membalas. Bundanya segera keluar dan mencari dia. Akhirnya sesosok anak manusia yang dicarinya sedari tadi pun ketemu. “heh, melamun aja… bantuin adikmu gih” suruh bundanya.
“iya bund,..” jawab Icha sembari berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia berjalan gontai di samping bundanya. Icha, seorang anak perempuan yang sifatnya sedikit mirip laki-laki dan sangat tegar. Ia mempunyai adik laki-laki yang berumur 13 tahun, adiknya tak seperti dia. Ayahnya sudah lama meninggal karena serangan jantung yang didera kala itu. Kini ia hanya tinggal bertiga bersama adik dan bunda yang sangat ia sayang. Namun, tak tahu kenapa ia slalu merasa kalau bundanya lebih memihak ke adiknya daripada ia.
“kerjakan ini” ucap adiknya ketika ia sudah berada di dalam rumah. Sontak ia menolak dan hanya mau memberi tahu cara penyelesaiannya karena ia mau adiknya benar-benar mengerti. Namun adiknya pun menolak dan tak mau belajar. bundanya pun langsung marah ke Icha Kena marah lagi kena marah lagi, keluhnya dalam hati. Icha menjelaskan alasan tak mau mengerjakan tugas adiknya tapi bundanya tak mau tahu itu. Ia pun menangis dalam hati. Selalu saja, apa yang ia katakana dan kerjakan selalu salah di mata bundanya tercinta. Terkadang ia tak kuat menahan beban perasaannya itu, pernah terpikir olehnya tuk meninggalkan rumah tercintanya itu namun tak sanggup tuk pergi menjauh dari ibunda dan adik tercintanya itu.

***
           
Tiga tahun sudah Siti Khodijah atau yang kerap dipanggil Icha itu belajar di SMA 15 Jakarta. Kini, ia telah lulus. Namun, ia ,merasa berat tuk meninggalkan sekolah tercintanya itu. Terlalu indah tuk dikenang ucapnya dalam hati. Sahabat-sahabatnya yang slalu setia tuk menemani, teman-teman di ekstrakulikulernya dulu yang sangat ia senangi dan kenangan-kenangan di dalam kelasnya. Hari ini, ia memakai kebaya dan berkerudung pula, anak yang biasanya tomboy itu terlihat cantik dengan hiasan yang melekat di badannya. Ia memakai sepatu hak tinggi. Tak kuasa menahan tawa sahabat-sahabatnya ketika ia melihat Icha yang berbalutkan kebaya dan sepatu hak tinggi.
“hahahahaha,…… mimpi apa loe tadi malem kok bisa seorang Icha memakai hak tinggi begini” ucap Agra salah satu teman akrabnya itu.
“masih tidur mungkin dia, makanya gak sadar” sahut Dicky.
“pantesan masih bau pesing, abis ngompol ya loe” celoteh si Rusli yang langsung di sambut tawa oleh semua orang. Icha pun hanya cemberut, 
“dasar kurang ajar, gak tau ea tuan putri cantik begini dibilang ngompol” balas Icha sambil bergaya bak seorang putri. Sontak semuanya pun tertawa.
“hahahahahaha, Tuan putri dari Hongkong apa??” ucap Wilda.
“eh, ngomongin apaan sih?” Hanin pun bingung apa yang mereka omongin sedari tadi.
“aduh… dasar lemot loe” timpal Desy. Semuanya pun tertawa. Meskipun terkadang para sahabatnya itu ngeselin hati, namun Icha sangat menyayangi mereka semua. Tak pernah dulu ia terpikir punya sahabat yang sangat dekat buatnya. Namun kini, sudah harus ia tinggalkan karena semuanya memiliki tujuan yang berbeda-beda. Hari itu terasa sejuk dalam hati, dengan khidmad suasananya wisuda pelepasan kelas XII kala itu. Namun hanya Icha yang merasa tak tenang. Ia selalu menoleh ke belakang tuk memastikan dimana nian bundanya tercita itu. Dari tadi pagi ia tak melihat bundanya. Hatinya pun resah tak karuan. Apa mungkin bundanya lupa hari yang sangat ia tunggu-tunggu itu? Atau mungkin bundanya memang sengaja tak datang mendampinginya. Ahh rasanya nggak mungkin pikir Icha.
Sepulang dari acara wisuda itu Icha tak menemukan seorangpun di rumah tercintanya. Icha  bingung dan menunggu. Sudah lepas maghrib namun tak jua ada yang datang. Tiba-tiba seorang wanita muda cantik terlihat keluar dari sebuah mobil mewah bersama anak laki-laki.
“bunda dari mana?” Tanya Icha.
“bunda dari jalan-jalan sayang, tadi diajak sama mbak Nuri. Maaf ya bunda nggak bisa datang ke sekolahmu ya, kamu kan uda gedhe masak harus di anterin sama bunda,” ucap bundanya.
“bunda kok tega sama aku sih? Tadi tuh acara penting buat Icha bund, semua teman-teman Icha orang tuanya pada datang sementara Icha hanya duduk sendirian selagi mereka berfoto-foto bersama” ucap Icha.
“haduh Icha… kalau masalah foto-foto nanti deh kita foto-foto bareng sekeluarga kan bisa”.
“tapi gak itu maslahnya bund…..” belum sempat Icha meneruskan kaata-katanya.
“yauda deh ini kita bicarain nanti saja, bunda ke kamar dulu, kasihan adikmu capek” ucapnya dan kemudian bunda pun pergi ke kamarnya meninggalkannya sendiri. Tak terasa bulir-bulir beningnya meleleh lagi. Setelah itu Icha berfikir, begitu tak berartikah aku untuknya? Oh Tuhan, aku tak kuat lagi menahan ini semua yang terjadi, maafkan aku Tuhan, jika aku harus pergi.
Malam itu, ia berniat tuk meninggalkan rumah tercintanya itu. Selembar kertas tergolek di atas meja kamarnya. Sebelum ia pergi ia ingat akan sesuatu, diambilnya kotak kecil kesayangannya di dalam almari. Dibukanya kotak itu, kembali meneteslah air matanya.
Tuhan..
Andai dapat memohon,
Kembalikan dia kepadaku,
Tuhan..
Andai dapat ku berkata,
Aku sangat rinduinya,
Tuhan..
Andai dapat ku berharap,
Aku ingin melihat senyumnya,
Tuhan..
Andai Kau karuniai aku sayap,
Aku akan terbang jauh ke tempatnya..
Tuhan..
Tak tahukah Engkau,
Bahwa aku sangat cintainya,
Aku sangat sayanginya,
Ku bagai kehilangan arah,
Bila tiada dia yang menuntunku,
Aku bagai mayat hidup,
Bila tiada dia yang membisikkan kata,
Aku pun tiada dapat bernafas,
Karena hanya dialah oksigen bagiku,
Mengapa wktu itu cepat berlalu,
Mengapa begitu cepat kau pisahkan aku darinya,
Mngapa Tuhan....????

***

            Keesokan harinya bu Nadin pun heran tak melihat anak sulungnya yang biasanya setiap pagi selalu rame di dalam kamarnya. Ia pun pergi ke kamar Icha dan melihat kamar itu rapi dan kosong. Tumben banget si Icha, pikirnya. Ketika hendak beranjak dari kamar itu ia melihat sesuatu yang membuatnya penasaran. Selembar kertas tergeletak di atas meja belajar putrinya. Diambilnya dan dibacanya kertas itu. Biasa saja, nanti juga dia kembali ke sini, toh dari mana juga ia bisa punya uang. Anak cuman bisa ngabisin duit gitu, pikir bundanya Icha. Di meja makan seperti biasanya, si bungsu yang tak melihat kakaknya ada di meja makan itu pun bertanya ke bundanya. Kemana mbaknya itu kok tak terlihat. Namun jawaban bundanya hanya tersenyum dan melanjutkan sarapannya.
            Menit silih berganti. Hari demi hari pun dilalui bu Nadin tanpa putri sulungnya, Siti Khodijah. Semula ia mengira bahwa kepergiannya hanya sementara dan akan kembali ke rumah itu. Namun kini, hampir tiga tahun lamanya Icha tak jua kembali. Kepikiran selalu dengan putri satu-satunya itu, rasa menyesal kini ada dihatinya. Ya Tuhan, maafkan hamba.. batinnya menangis. Ia sangat rindu dengan putri sulungnya itu. Putri kebanggaan alm. suaminya dulu karena semasa hidup suaminya, ia selalu di latih dan dilatih alm. Suaminya tuk selalu jadi anak yang pemberani, sopan, berbudi pekerti yang baik dan pintar. Ya Allah, aku baru menyadarinya kalau selama ini perubahan sikapnya itu gara-gara hamba. Ibu macam apa hamba ini? Tak terasa bulir-bulir bening meluncur deras di pipinya yang putih. Pandangannya kosong. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh sentuhan tangan di pundaknya.
            “bunda ada apa sih? Kepikiran mbak Icha ya bund? Udahlah bund, jangan seperti ini terus.. suatu saat kelak mbak Icha pasti kembali” Tanya putra bungsunya itu yang sekarang sudah beranjak remaja.
            “tapi kapan itu? Bahkan sampai sekarangpun dia tak pernah menghubungi bunda, ini semua salah bunda, yang terlalu membedakanmu sama kakakmu itu”. Sayp-sayup suara dedaunan kering terseret oleh angin. Sepasang mata yang menyaksikan dua orang yang sangat ia kenal. Ia sangat merindukan suasana berada di tengah-tengah mereka. Lama nian ia meninggalkannya ingin rasanya ia kembali namun niat itu dia urungkan karena ingat akan janjinya dulu di atas nisan ayahnya, ia akan pergi dan akan buktikan pada bundanya kalau dia bisa sukses tanpa harus menyusahkan bunda tercintanya itu.
           
***
           
Masih terasa dinginnya suasana di pagi hari, adzan subuh baru selesai dikumandangkan. Tepat setelah ia sholat subuh ia mendengar suara pintu kamarnya diketuk. “iya sebentar,”ucapnya. Tak sempat ia berdzikir dan masih dengan mukena putihnya, ia pun membukakan pintunya. “eh, budhe.. ada apa budhe? Kok pagi-pagi gini budhe sudah ke kamar Icha?”
            “owh tidak apa-apa ndug, itu lho.. tadi adikmu sms budhe dan cerita ke budhe, katanya ibumu sakit karena kepikiran sama kamu. Apa ndak sebaiknya kamu pulang ndug? Nggak baik rasanya kamu jadi anak yang nggak berbakti sama orang tua”. Ucap budhe Tutik. Budhenya yang memang dari dulu sudah tahu cerita Icha dan menganjurkannya untuk menuntut ilmu di kotanya saja sehingga ia tak perlu mencari tempat tinggal lagi dan ikut bersamanya.
            “Masya Allah, bunda sakit budhe?” perasaan Icha kaget campur sedih apalagi dia yang menjadi penyebab bundanya sakit. Bagaimanapun itu, bu Nadin tetap bundanya. Rona mata indahnya berkaca-kaca. “iya nanti saya pulang bunda” sambungnya. Budhenya pun terseeenyum.
            “biar nanti Gilang yang ngantar kamu sayang,” dan Icha pun hanya menunduk.

***
           
Tiga tahun lebih, hmm suasananya masih sama, pikir Icha yang baru saja menginjakkan kaki di pekarangan rumahnya. Sayup-sayup ia melihat jendela kamarnya dulu. Kangen rasanya ia pada rumah yang menyimpan sejuta kenangan itu. Tatapannya kini ada pada pintu rumahnya. Apa ia sanggup? Oh Tuhan… kuatkan aku, ucapanya dalam hati. Sembari ditemani mas Gilang, salah satu putra budhenya itu ia berjalan dan terus berjalan hingga berada tepat di depan pintu rumahnya. Sebelum ia mengetuk pintu, ia sempat menoleh ke arah Gilang. Ia pun mengangguk sembari tersenyum. Terdengar suara seseorang mendekati pintu dan mencoba membukakan pintu untuknya.
“Mbak Icha…” ucap seseorang dari dalam yang baru membuka pintu itu dengan kaget namun terlihat senang itu. Tatapan matanya mengguratkan sejuta kerinduan yang terpendam. “mbak selama ini kemana aja? Bunda nyari mbak kemana-kemana tapi nggak ketemu juga, aku juga kangen banget mbak sama kamu”. Disambut dengan ucapan begitu sang punya nama hanya tersenyum. Ingin rasanya ia memeluk adik kesayangannya itu meski dulu pernah buatnya iri. “eh ada mas Gilang juga to, mangga masuk mas” lanjut Dion dengan logat jawanya. Sembari melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia memandang sekitar, hmmm masih sama seperti dulu walau ada beberapa hiasan dinding baru di sudut ruang tamunya itu, kata Icha dalam hati. Terbayang masa kecilnya dulu bersama ayah, bunda serta Dion sampai suasana duka siang itu, Minggu, 13 Maret 2003 ketika ayahnya tercinta dipanggil Sang Maha Kuasa. Tak terasa air matanya mengalir mengingat akan masa-masa itu. Tak terasa, kaki telah melangkah sampai di depan kamar bundanya.
“bunda…” ucap Icha dari depan pintu. Sang empunya nama menoleh kearah suara yang memanggilnya itu. Terlihat seorang perempuan cantik berkulit putih dengan lingkar mata yang begitu jelas. Tuhan, ampuni aku yang telah buat orang tuaku seperti ini, ucap Icha dalam hati. Tak kuasa ia berlari dan berlutut dihadapan bu Nadin. Icha memeluk bundanya dengan sangat erat dan tak kuasa melepasnya.
“Icha…” ucap bu Nadin datar. Tak kuasa ia menahan air mata. Putri sulungnya yang dulu selalu ia salahkan kini telah tumbuh menjadi seorang gadis, berkerudung lagi. “maafkan bunda sayang…”
“tidak bund, aku yang harus minta maaf sama bunda”
“sssttt… sekarang kamu berdiri, tatap bunda…” Icha pun menurut perkataan orang tuanya itu, sembari mengusap air mata sang bunda. “kamu tahu kan sayang, bunda sangat menyayangi kalian berdua, maafkan bunda yang telah membedakanmu” lanjutnya.
“tak apa bunda, Icha tak pernah marah sama bunda namun Icha ingin membuktikan kepada bunda,” balas Icha. “hmmm ini bunda,” lanjut Icha seraya memberikan sepucuk surat kepada bundanya. Bundanya pun tersenyum melihat isinya. Ya, kini Icha telah menjadi seorang Sarjana Pendidikan Sosiologi dan menjadi Mahasiswa no 1 di kampusnya. Bahagia rasanya dalam hati bu Nadin, melihat putri satu-satunya itu menjadi seorang Sarjana, “yah.. kini putri kebanggaanmu kini telah berhasil seperti yang kau impikan,” seru bu Nadin dalam hati.

Suasana haru pun terjadi di rumah bu Nadin siang itu. Seseorang yang berdiri di depan pintu pun tersenyum melihat keluarga kecil itu kembali utuh. Guyuran air hujan yang baru saja mengguyur bumi menambah suasana sejuk kala itu. Dedaunan melambai-lambai seolah bergmbira atas kesejukan hati insan siang itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar