Selasa, 10 Maret 2015

Butiran Kristal di Atas Sajadah Ema



Sayup-sayup terdengar kicauan para burung yang sedang bernyanyi riang meramaikan suasana pagi ini, bak penyanyi profesional yang sedang bernyanyi bersama dengan nada-nada indah nan mempesona. Kala itu, setelah para jama’ah sholat shubuh meninggalkan belantara masjid satu per satu. Akhirnya masjid itu pun kososng dan tertata rapi seperti sedia kala. Disusul dengan matahari yang perlahan mulai ke luar dari peraduannya. Terlihat seorang wanita cantik paruh baya sedang membersihkan halaman rumahnya pagi itu.
“Ya Allah.. sudah jam berapa ini Ema belum bangun juga” ucap wanita paruh baya tersebut yang mempunyai nama lengkap Windi Haryaning Putri. Disandarkannya sapu yang tadi dia pakai di tembok depan rumahnya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Tok tok tok… suara ketukan pintu kamar Ema.
“Ema, bangun nak..” ucap bu Windi berkali-kali di depan kamar putri tercintanya tersebut. Namun, apa yang dinanti tak juga terkabulkan. Siti Fatimah, nama lengkap putrinya yang kerap dipanggil Ema tak juga beranjak dari kamarnya. Pada akhirnya bu Windi masuk ke kamar putrinya dengan menggunakan kunci lain yang tersimpan di ruang tengah rumahnya. “Masya Allah.. Ema, bangun nak.. Matahari sudah tinggi dan kamu belum sholat shubuh” ucap bu Windi yang sudah berada di samping putri tercintanya tersebut.
“Ehmm… masih ngantuk bunda..” Ema kembali menarik selimutnya dan mennutupi wajahnya dengan guling.
“Ema sayang, bukankah kamu hari ini ada ujian sekolah? Kamu hari ini telat sholat subuh lagi, mau jadi apa kamu nak? Bangun sayang… sudah siang ini, sudah hampir jam 7.” Bu Windi kembali menasehati Ema.
“Apa bunda? Jam 7?” ucap Ema kaget langsung bergegas meloncat dari tempat tidur. Secepat kilat dia ke belakang rumah untuk mengambil handuk yang diletakkan di jemuran belakang dan bergegas masuk ke kamar mandi. Bu Windi yang menyaksikan itu hanya dapat menggelengkan kepala sambil membatin ‘Ya Allah.. berilah hamba kesabaran dan kekuatan dalam mendidik anak hamba ke jalanMu, dan tolong tunjukkan jalan yang baik untuk anakku Ya Robb’.
***
“Bunda, Ema berangkat dulu ya.. Assalamu’alaikum” teriak Ema setelah mencium tangan bundanya sambil membenahi pakaiannya dan berlarian ke luar rumah.
Pemilik nama Siti Fatimah pun berlarian ke halte bus di depan gang rumahnya itu. Siti Fatimah yang kerap dipanggil Ema adalah seorang gadis tomboi yang berwajah cantik berambut hitam ikal sebahu, dan berkulit kuning langsat itu berumur 18 tahun kurang 3,5 bulan. Dia bersekolah di SMA Nasional Surabaya dan sedang duduk di kelas XII. Siti Fatimah mempunyai tubuh yang kecil namun sangat aktif dan tidak bisa diam. Di sekolah, di rumah, maupun di tempat-tempat lain ada saja yang dia kerjakan. Namun begitu Ema merupakan gadis yang suka membaca, oleh karenanya Ema bisa masuk peringkat paralel di sekolahnya. Tapi, ada satu hal yang sangat dibenci oleh para arjuna yang jatuh cinta padanya, yaitu sifat cueknya kepada setiap lelaki dan hanya ada beberapa saja yang bisa membuatnya menjadi Ema dengan sifat aslinya, yakni cerewet dan slalu tersenyum. Slalu karena cuek, Ema sering dibilang sombong atau sok jual mahal, tapi Ema tetaplah Ema, tetap dengan cuek dia tak memperdulikan semua omongan itu.
   Pagi itu, hampir saja Ema telat masuk kelas. Memang begitulah Ema. Tiba di ruang kelas selalu 2 menit sebelum bel berbunyi, ada ataupun tidak ada ujian pun sama. “huh huh huh.. untung saja tidak telat” gumam Ema seraya mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor ujiannya.
“Telat bangun lagi ya kamu?” tanya seorang lelaki dengan wajah cool di samping tempat duduk Ema. Ema pun hanya cengengesan.
Hari-hari penuh ujian pun dilalui Ema dengan penuh semangat karena pada bulan inilah penentuan nasibnya selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMA Nasional Surabaya.
***
Hari ini, tepat tanggal 26 Mei 2012 adalah hari pengumuman kelulusan bagi seluruh siswa SMA/MA/Sederajat di Indonesia. Tepat pukul 07.00 WIB seluruh siswa di SMA Nasional Surabaya kelas 3 sudah berada di aula sekolah untuk mendapatkan pengumuman tentang kelulusan mereka. Dilalui dengan hati yang berdebar-debar, akhirnya diketahui juga oleh seluruh warga sekolah bahwa seluruh kelas 3 di SMA Nasional Surabaya lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, begitu juga dengan Siti Fatimah. Namun, hari itu terlihat ada yang berbeda di raut muka Ema.
“Sudahlah ma, jangan terlalu di fikirkan.. toh kamu juga termasuk pada beberapa anak dengan nilai yang sangat bagus kan? Bersyukur sajalah” ucap lelaki tertampan di sekolah itu yang mempunyai nama Muhammad Rizky Alamsyah yang juga menjadi sahabat Ema sejak kecil.
“Iya sih Am..” jawab Ema dengan memanggil nama kecil lelaki itu “tapi..” ada gurat kekecawaan di wajah Ema. Namun, sang lelaki yang tadi berada di sebelah Ema pergi begitu saja tanpa mendengarkan ucapan Ema barusan. “ih dasar ni anak..” lanjut Ema dengan wajah yang semakin cemberut.
Hari demi hari dilalui Ema dengan penuh rasa kecewa. Pengumuman tidak diterimanya Ema di Perguruan Tinggi Negeri favorit kala itu membuatnya semakin sedih dan kecewa. Sempat dia berfikir bahwa Tuhan tidak adil dengannya, namun bu Windi slalu mendampingi dan menyemangati putrinya tersebut. Pada akhirnya, suatu hari Ema pun lolos saat mengikuti tes di salah satu Perguruan Tinggi Negeri meskipun pada mulanya Ema tidak berniat sedikitpun untuk meneruskan pendidikannya di sana. ‘yah.. apa boleh buat, daripada tidak melanjutkan pendidikan’ batin Ema kala itu.
***
Berada di kampus itu ternyata tidak seperti yang dia bayangkan. Hari-hari di sana dilalui Ema dengan biasa saja tanpa ada yang berharga. Meski Ema merupakan salah satu mahasiswa favorit disana, Ema tak berfikir itu adalah salah satu yang membanggakan pada dirinya. Apalagi, kini dia telah jauh dengan Aam yang mempunyai nama lengkap Muhammad Rizky Alamsyah, sahabatnya yang kini menempuh pendidikannya di kota yang berbeda.
Kampus merupakan dunia baru bagi Ema, tanpa teman dan sahabat-sahabatnya seperti dulu. Di sana, dia selalu merasa sendiri meski banyak teman yang selalu mengelilinginya. Di kampus itu, dia banyak berteman dengan para lelaki karena mempunyai hobi yang sama dengannya yang terkenal tomboi itu. Kedekatannya dengan banyak teman  lelaki malah membuatnya sering pulang malam ke kosannya dan juga lalai akan kewajibannya untuk beribadah kepada Allah. Ema pun slalu resah setiap harinya, tanpa dia tahu mengapa dan dia tak pernah bersyukur atas apa yang pernah dia dapatkan. Selalu kurang dan kurang yang ada di fikiran Ema.
Satu semester sudah dilalui Ema dengan biasa saja menurutnya, hingga libur semerter ke dua pun dimulai. Dan betapa bahagianya Ema, ramadhan kali ini pun terjadi di saat dia libur semester.
***
“Halo sayang.. dimana kamu sekarang?” nada sapaan awal dari seseorang yang menelpon Ema dengan nomor baru di Handphonenya itu.
“Di rumah, siapa ini..” jawab Ema yang memang saat itu sedang menikmati liburan semesternya di rumah.
“Tebak dong siapa aku” ucap si penelphon tersebut. Ema pun diam dan berfikir ‘eh tunggu bentar.. yang memanggilku sayang di awal telpon kan cuman..’
“Aam.. ih.. sombong banget kamu gak pernah bisa dihubungi lagi..” ucap Ema kepada sahabatnya tersebut dengan nada kerinduan.
“Maaf sayang, bukannya sombong tapi memang lagi sibuk aku, biasalah.. orang ganteng selalu banyak kerjaan hehehe... aku juga rindu tau sama kamu, Ini juga sudah ku telphone kan?” jawab Aam yang sepertinya tahu apa yang dirasakan Ema saat itu.
“Sama aja. Sebel aku sama kamu..” air mata Ema pun perlahan menetes. “Am.. aku rindu masa-masa seperti dulu, di sana itu tidak nyaman. Gak ada bunda dan juga gak ada kamu am, semuanya seperti hampa dan bla bla bla..” Ema pun menceritakan semua kejadiannya sehari-hari kepada sahabat tercintanya tersebut.
“Sudah ceritanya?” tanya Aam setelah Ema selesai bicara. Diam tak ada sahutan. “Ngomong-ngomong puasa gak kamu sekarang? Jangan-jangan uda buka lagi hehehe” goda Aam mencairkan suasana.
“Idih.. apaan sih kamu, ya puasalah”
“Hmm.. yasudah, besok malam sehabis sholat tarawih ikut aku ya, tak jemput ke rumahmu.. gak boleh nolak. Pakai baju putih dan kerudung putih” ucap Aam. “kalau bisa pakai rok panjang” lanjut Aam seraya menutup telponnya. Ema pun hanya di buat diam keheranan.
Malam berikutnya, sesuai apa yang dikatakan oleh Aam kala itu. Pukul 20.00 WIB di depan rumah Ema sedang berdiri seorang pemuda tampan menggunakan baju kokoh putih dengan memakai sarung dan peci terlihat sedang menunggu seseorang. Bu Windi pun dikagetkan oleh pemuda yang berdiri di depan pagar rumahnya ketika hendak mengunci pagar rumahnya tersebut. “lho ada mas Aam.. kenapa gak masuk aja? Nungguin Ema ya?” tanya bu Windi.
“Eh iya, tidak usah tante biar di sini saja” jawab Aam dengan sopan.
“Tuh Ema sudah ke luar” ucap bu Windi yang di iringi dengan pandangan Aam ke arah wanita yang sedari tadi ditunggunya tersebut. Rasa kagum pun terbesit di fikiran Bu Windi dan juga Aam. Rasanya, seperti melihat bidadari cantik yang turun dari surga. “Subhanallah, putri bunda cantik sekali memakai kerudung seperti ini, kenapa tidak dari dulu saja, betul tidak am” lanjut bu Windi memuji putrinya.
“Eh iya tante,” jawab Aam dengan gugup karena takut ketahuan sedang mengagumi kecantikan Ema.
“Iih.. apaan sih bunda” ucap Ema dengan nada malu. “Yasudah, Ema pergi dulu ya bunda… Assalamu’alaikum” lanjut Ema yang dibarengi Aam di belakangnya. “Ngomong-ngomong kita mau ke mana am?” tanya Ema memecah keheningan.
“Ke sana tuh” ucap Aam sambil menunjuk ke tempat di mana banyak sekali orang-orang berpakaian seperti dirinya dan sahabatnya itu. Seakan mengetahui kebingungan wanita di sampingnya, Aam pun melanjutkan ucapannya sambil tersenyum, “Kita mau shalat tasbih bareng dengan mereka, hari ini kan malam ganjil bulan ramadhan, tepatnya malam ke 27 bulan ramadhan. Semoga aja kita mendapatkan hidayah dari Allah dan bisa menjadi manusia yang lebih baik”.
Setelah memarkir mobilnya, Aam dan Ema pun menuju tempat berkumpulnya para orang-orang shaleh tersebut. “Banyak banget ya yang ikut” ucap Ema seraya memerhatikan sekelilingnya dan hanya di jawab Aam dengan senyuman. Mereka pun berpencar untuk mengambil wudhu dan menempati tempat yang sudah di sediakan untuk laki-laki sendiri begitu juga untuk wanita. Mereka berdua pun mengikuti acara dengan sangat khusyuk, apalagi Ema yang sedari tadi konsentrasi mendengarkan tausiah dari Kyai yang memimpin acara tersebut.
Sejenak Ema pun menunduk. Merenungi apa yang telah dia lakukan selama ini. Tidak seperti yang dikatakan Kyai itu, Ema lebih-lebih telah menjadi manusia yang jauh dari rasa syukur. Dia selalu merasa kurang dalam hidupnya, bahkan dia pernah menilai Tuhan itu tidak adil. Dari tausiah tersebut, Ema juga merasa bahwa selama ini dia telah melakukan banyak dosa. Mengumbar auratnya disetiap tempat, dan yang lebih parah juga sering melalaikan shalat fardhu. Tak terasa air mata Siti Fatimah pun perlahan menetes. Apalagi setelah dia mendengar apa balasan bagi orang yang tidak menutup aurat di depan laki-laki yang bukan mukhrimnya serta tak mengerjakan sholat fardhu.
“Ya Allah Ya Robby.. Tuhanku yang Maha Esa, Maha Pengasih, Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.. Ampuni hamba Ya Robb.. ampuni segala kesalahan hamba yang terdahulu, janganlah Engkau siksa Alm ayahanda hamba karena kesalahan hamba di masa lalu. Maafkan hamba Ya Robb..” ucap Ema lirih dengan penuh penyesalan. Tausiah pun selesai, para jama’ah beranjak berdiri dan memulai sholat tasbih dengan dipimpin oleh Kyai tersebut. Ema mengikutinya dengan sangat khusuk, tak sedikitpun rasa kantuk menjalari matanya, meski jam saat itu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Di sujud terakhirnya, Ema merenungi segala kesalahan yang telah ia lakukan selama ini. Dia meminta ampun kepada Allah dan tak terasa, butiran-butiran beningpun mulai berjatuhan membasahi sajadah Ema saat itu. Malam itu, Ema merasa batinnya sangat tenanag. Dia serasa menemukan seseuatu yang baru, dan merasa sangat ringan menjalani kehidupannya lagi.
Semenjak saat itu, Ema tidak pernah telat sholat fardhu bahkan sholat sunnah pun selalu dia kerjakan. Dia tidak lagi menjadi Ema yang dahulu. Dia kini telah menjadi wanita muslimah dengan balutan kerudung yang menutupi kepalanya. Bu Windi pun sangat bersyukur dan bahagia melihat perubahan Siti Fatimah, putri tercintanya tersebut. tak henti-hentinya bu Windi berucap syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikanNya kepada bu Windi. ‘Sungguh besar karuniaMu kepada kami Ya Robb..’ ucap bu Windi dalam doanya kali itu, ‘ayah.. putri kecilmu kini telah menjadi dewasa’ lanjut bu Windi sembari meneteskan air mata kebahagiaan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar