Sayup-sayup terdengar
kicauan para burung yang sedang bernyanyi riang meramaikan suasana pagi ini,
bak penyanyi profesional yang sedang bernyanyi bersama dengan nada-nada indah
nan mempesona. Kala itu, setelah para jama’ah sholat shubuh meninggalkan belantara
masjid satu per satu. Akhirnya masjid itu pun kososng dan tertata rapi seperti
sedia kala. Disusul dengan matahari yang perlahan mulai ke luar dari
peraduannya. Terlihat seorang wanita cantik paruh baya sedang membersihkan
halaman rumahnya pagi itu.
“Ya Allah.. sudah jam
berapa ini Ema belum bangun juga” ucap wanita paruh baya tersebut yang
mempunyai nama lengkap Windi Haryaning Putri. Disandarkannya sapu yang tadi dia
pakai di tembok depan rumahnya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Tok tok tok…
suara ketukan pintu kamar Ema.
“Ema, bangun nak..”
ucap bu Windi berkali-kali di depan kamar putri tercintanya tersebut. Namun,
apa yang dinanti tak juga terkabulkan. Siti Fatimah, nama lengkap putrinya yang
kerap dipanggil Ema tak juga beranjak dari kamarnya. Pada akhirnya bu Windi
masuk ke kamar putrinya dengan menggunakan kunci lain yang tersimpan di ruang
tengah rumahnya. “Masya Allah.. Ema, bangun nak.. Matahari sudah tinggi dan
kamu belum sholat shubuh” ucap bu Windi yang sudah berada di samping putri tercintanya
tersebut.
“Ehmm… masih ngantuk
bunda..” Ema kembali menarik selimutnya dan mennutupi wajahnya dengan guling.
“Ema sayang, bukankah
kamu hari ini ada ujian sekolah? Kamu hari ini telat sholat subuh lagi, mau
jadi apa kamu nak? Bangun sayang… sudah siang ini, sudah hampir jam 7.” Bu
Windi kembali menasehati Ema.
“Apa bunda? Jam 7?”
ucap Ema kaget langsung bergegas meloncat dari tempat tidur. Secepat kilat dia
ke belakang rumah untuk mengambil handuk yang diletakkan di jemuran belakang
dan bergegas masuk ke kamar mandi. Bu Windi yang menyaksikan itu hanya dapat
menggelengkan kepala sambil membatin ‘Ya Allah.. berilah hamba kesabaran dan
kekuatan dalam mendidik anak hamba ke jalanMu, dan tolong tunjukkan jalan yang
baik untuk anakku Ya Robb’.
***
“Bunda,
Ema berangkat dulu ya.. Assalamu’alaikum” teriak Ema setelah mencium tangan
bundanya sambil membenahi pakaiannya dan berlarian ke luar rumah.
Pemilik
nama Siti Fatimah pun berlarian ke halte bus di depan gang rumahnya itu. Siti
Fatimah yang kerap dipanggil Ema adalah seorang gadis tomboi yang berwajah
cantik berambut hitam ikal sebahu, dan berkulit kuning langsat itu berumur 18
tahun kurang 3,5 bulan. Dia bersekolah di SMA Nasional Surabaya dan sedang
duduk di kelas XII. Siti Fatimah mempunyai tubuh yang kecil namun sangat aktif
dan tidak bisa diam. Di sekolah, di rumah, maupun di tempat-tempat lain ada
saja yang dia kerjakan. Namun begitu Ema merupakan gadis yang suka membaca,
oleh karenanya Ema bisa masuk peringkat paralel di sekolahnya. Tapi, ada satu hal
yang sangat dibenci oleh para arjuna yang jatuh cinta padanya, yaitu sifat
cueknya kepada setiap lelaki dan hanya ada beberapa saja yang bisa membuatnya
menjadi Ema dengan sifat aslinya, yakni cerewet dan slalu tersenyum. Slalu
karena cuek, Ema sering dibilang sombong atau sok jual mahal, tapi Ema tetaplah
Ema, tetap dengan cuek dia tak memperdulikan semua omongan itu.
Pagi itu, hampir saja Ema telat masuk kelas. Memang begitulah Ema.
Tiba di ruang kelas selalu 2 menit sebelum bel berbunyi, ada ataupun tidak ada
ujian pun sama. “huh huh huh.. untung saja tidak telat” gumam Ema seraya
mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor ujiannya.
“Telat bangun lagi ya
kamu?” tanya seorang lelaki dengan wajah cool di samping tempat duduk Ema. Ema
pun hanya cengengesan.
Hari-hari penuh ujian
pun dilalui Ema dengan penuh semangat karena pada bulan inilah penentuan
nasibnya selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMA Nasional Surabaya.
***
Hari ini, tepat tanggal
26 Mei 2012 adalah hari pengumuman kelulusan bagi seluruh siswa SMA/MA/Sederajat
di Indonesia. Tepat pukul 07.00 WIB seluruh siswa di SMA Nasional Surabaya
kelas 3 sudah berada di aula sekolah untuk mendapatkan pengumuman tentang
kelulusan mereka. Dilalui dengan hati yang berdebar-debar, akhirnya diketahui
juga oleh seluruh warga sekolah bahwa seluruh kelas 3 di SMA Nasional Surabaya
lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, begitu juga dengan Siti Fatimah.
Namun, hari itu terlihat ada yang berbeda di raut muka Ema.
“Sudahlah ma, jangan
terlalu di fikirkan.. toh kamu juga termasuk pada beberapa anak dengan nilai
yang sangat bagus kan? Bersyukur sajalah” ucap lelaki tertampan di sekolah itu
yang mempunyai nama Muhammad Rizky Alamsyah yang juga menjadi sahabat Ema sejak
kecil.
“Iya sih Am..” jawab
Ema dengan memanggil nama kecil lelaki itu “tapi..” ada gurat kekecawaan di
wajah Ema. Namun, sang lelaki yang tadi berada di sebelah Ema pergi begitu saja
tanpa mendengarkan ucapan Ema barusan. “ih dasar ni anak..” lanjut Ema dengan
wajah yang semakin cemberut.
Hari demi hari dilalui
Ema dengan penuh rasa kecewa. Pengumuman tidak diterimanya Ema di Perguruan
Tinggi Negeri favorit kala itu membuatnya semakin sedih dan kecewa. Sempat dia
berfikir bahwa Tuhan tidak adil dengannya, namun bu Windi slalu mendampingi dan
menyemangati putrinya tersebut. Pada akhirnya, suatu hari Ema pun lolos saat
mengikuti tes di salah satu Perguruan Tinggi Negeri meskipun pada mulanya Ema
tidak berniat sedikitpun untuk meneruskan pendidikannya di sana. ‘yah.. apa
boleh buat, daripada tidak melanjutkan pendidikan’ batin Ema kala itu.
***
Berada di kampus itu
ternyata tidak seperti yang dia bayangkan. Hari-hari di sana dilalui Ema dengan
biasa saja tanpa ada yang berharga. Meski Ema merupakan salah satu mahasiswa
favorit disana, Ema tak berfikir itu adalah salah satu yang membanggakan pada
dirinya. Apalagi, kini dia telah jauh dengan Aam yang mempunyai nama lengkap Muhammad
Rizky Alamsyah, sahabatnya yang kini menempuh pendidikannya di kota yang
berbeda.
Kampus merupakan dunia
baru bagi Ema, tanpa teman dan sahabat-sahabatnya seperti dulu. Di sana, dia
selalu merasa sendiri meski banyak teman yang selalu mengelilinginya. Di kampus
itu, dia banyak berteman dengan para lelaki karena mempunyai hobi yang sama
dengannya yang terkenal tomboi itu. Kedekatannya dengan banyak teman lelaki malah membuatnya sering pulang malam
ke kosannya dan juga lalai akan kewajibannya untuk beribadah kepada Allah. Ema
pun slalu resah setiap harinya, tanpa dia tahu mengapa dan dia tak pernah
bersyukur atas apa yang pernah dia dapatkan. Selalu kurang dan kurang yang ada
di fikiran Ema.
Satu semester sudah
dilalui Ema dengan biasa saja menurutnya, hingga libur semerter ke dua pun
dimulai. Dan betapa bahagianya Ema, ramadhan kali ini pun terjadi di saat dia
libur semester.
***
“Halo sayang.. dimana
kamu sekarang?” nada sapaan awal dari seseorang yang menelpon Ema dengan nomor
baru di Handphonenya itu.
“Di rumah, siapa ini..”
jawab Ema yang memang saat itu sedang menikmati liburan semesternya di rumah.
“Tebak dong siapa aku”
ucap si penelphon tersebut. Ema pun diam dan berfikir ‘eh tunggu bentar.. yang
memanggilku sayang di awal telpon kan cuman..’
“Aam.. ih.. sombong
banget kamu gak pernah bisa dihubungi lagi..” ucap Ema kepada sahabatnya
tersebut dengan nada kerinduan.
“Maaf sayang, bukannya
sombong tapi memang lagi sibuk aku, biasalah.. orang ganteng selalu banyak
kerjaan hehehe... aku juga rindu tau sama kamu, Ini juga sudah ku telphone
kan?” jawab Aam yang sepertinya tahu apa yang dirasakan Ema saat itu.
“Sama aja. Sebel aku
sama kamu..” air mata Ema pun perlahan menetes. “Am.. aku rindu masa-masa
seperti dulu, di sana itu tidak nyaman. Gak ada bunda dan juga gak ada kamu am,
semuanya seperti hampa dan bla bla bla..” Ema pun menceritakan semua
kejadiannya sehari-hari kepada sahabat tercintanya tersebut.
“Sudah ceritanya?” tanya
Aam setelah Ema selesai bicara. Diam tak ada sahutan. “Ngomong-ngomong puasa
gak kamu sekarang? Jangan-jangan uda buka lagi hehehe” goda Aam mencairkan
suasana.
“Idih.. apaan sih kamu,
ya puasalah”
“Hmm.. yasudah, besok
malam sehabis sholat tarawih ikut aku ya, tak jemput ke rumahmu.. gak boleh
nolak. Pakai baju putih dan kerudung putih” ucap Aam. “kalau bisa pakai rok
panjang” lanjut Aam seraya menutup telponnya. Ema pun hanya di buat diam
keheranan.
Malam berikutnya,
sesuai apa yang dikatakan oleh Aam kala itu. Pukul 20.00 WIB di depan rumah Ema
sedang berdiri seorang pemuda tampan menggunakan baju kokoh putih dengan
memakai sarung dan peci terlihat sedang menunggu seseorang. Bu Windi pun
dikagetkan oleh pemuda yang berdiri di depan pagar rumahnya ketika hendak
mengunci pagar rumahnya tersebut. “lho ada mas Aam.. kenapa gak masuk aja?
Nungguin Ema ya?” tanya bu Windi.
“Eh iya, tidak usah
tante biar di sini saja” jawab Aam dengan sopan.
“Tuh Ema sudah ke luar”
ucap bu Windi yang di iringi dengan pandangan Aam ke arah wanita yang sedari
tadi ditunggunya tersebut. Rasa kagum pun terbesit di fikiran Bu Windi dan juga
Aam. Rasanya, seperti melihat bidadari cantik yang turun dari surga.
“Subhanallah, putri bunda cantik sekali memakai kerudung seperti ini, kenapa
tidak dari dulu saja, betul tidak am” lanjut bu Windi memuji putrinya.
“Eh iya tante,” jawab
Aam dengan gugup karena takut ketahuan sedang mengagumi kecantikan Ema.
“Iih.. apaan sih bunda”
ucap Ema dengan nada malu. “Yasudah, Ema pergi dulu ya bunda… Assalamu’alaikum”
lanjut Ema yang dibarengi Aam di belakangnya. “Ngomong-ngomong kita mau ke mana
am?” tanya Ema memecah keheningan.
“Ke sana tuh” ucap Aam
sambil menunjuk ke tempat di mana banyak sekali orang-orang berpakaian seperti
dirinya dan sahabatnya itu. Seakan mengetahui kebingungan wanita di sampingnya,
Aam pun melanjutkan ucapannya sambil tersenyum, “Kita mau shalat tasbih bareng
dengan mereka, hari ini kan malam ganjil bulan ramadhan, tepatnya malam ke 27
bulan ramadhan. Semoga aja kita mendapatkan hidayah dari Allah dan bisa menjadi
manusia yang lebih baik”.
Setelah memarkir
mobilnya, Aam dan Ema pun menuju tempat berkumpulnya para orang-orang shaleh
tersebut. “Banyak banget ya yang ikut” ucap Ema seraya memerhatikan
sekelilingnya dan hanya di jawab Aam dengan senyuman. Mereka pun berpencar
untuk mengambil wudhu dan menempati tempat yang sudah di sediakan untuk
laki-laki sendiri begitu juga untuk wanita. Mereka berdua pun mengikuti acara dengan
sangat khusyuk, apalagi Ema yang sedari tadi konsentrasi mendengarkan tausiah
dari Kyai yang memimpin acara tersebut.
Sejenak Ema pun
menunduk. Merenungi apa yang telah dia lakukan selama ini. Tidak seperti yang
dikatakan Kyai itu, Ema lebih-lebih telah menjadi manusia yang jauh dari rasa
syukur. Dia selalu merasa kurang dalam hidupnya, bahkan dia pernah menilai
Tuhan itu tidak adil. Dari tausiah tersebut, Ema juga merasa bahwa selama ini
dia telah melakukan banyak dosa. Mengumbar auratnya disetiap tempat, dan yang
lebih parah juga sering melalaikan shalat fardhu. Tak terasa air mata Siti
Fatimah pun perlahan menetes. Apalagi setelah dia mendengar apa balasan bagi
orang yang tidak menutup aurat di depan laki-laki yang bukan mukhrimnya serta
tak mengerjakan sholat fardhu.
“Ya Allah Ya Robby..
Tuhanku yang Maha Esa, Maha Pengasih, Maha Penyayang lagi Maha Pengampun..
Ampuni hamba Ya Robb.. ampuni segala kesalahan hamba yang terdahulu, janganlah
Engkau siksa Alm ayahanda hamba karena kesalahan hamba di masa lalu. Maafkan
hamba Ya Robb..” ucap Ema lirih dengan penuh penyesalan. Tausiah pun selesai,
para jama’ah beranjak berdiri dan memulai sholat tasbih dengan dipimpin oleh
Kyai tersebut. Ema mengikutinya dengan sangat khusuk, tak sedikitpun rasa
kantuk menjalari matanya, meski jam saat itu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini
hari. Di sujud terakhirnya, Ema merenungi segala kesalahan yang telah ia
lakukan selama ini. Dia meminta ampun kepada Allah dan tak terasa,
butiran-butiran beningpun mulai berjatuhan membasahi sajadah Ema saat itu.
Malam itu, Ema merasa batinnya sangat tenanag. Dia serasa menemukan seseuatu
yang baru, dan merasa sangat ringan menjalani kehidupannya lagi.
Semenjak saat itu, Ema
tidak pernah telat sholat fardhu bahkan sholat sunnah pun selalu dia kerjakan.
Dia tidak lagi menjadi Ema yang dahulu. Dia kini telah menjadi wanita muslimah
dengan balutan kerudung yang menutupi kepalanya. Bu Windi pun sangat bersyukur
dan bahagia melihat perubahan Siti Fatimah, putri tercintanya tersebut. tak henti-hentinya
bu Windi berucap syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikanNya kepada bu
Windi. ‘Sungguh besar karuniaMu kepada kami Ya Robb..’ ucap bu Windi dalam
doanya kali itu, ‘ayah.. putri kecilmu kini telah menjadi dewasa’ lanjut bu Windi
sembari meneteskan air mata kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar