Selasa, 10 Maret 2015

Dibalik Sebuah Kerinduan



Samar namun pasti suara adzan mulai terdengar merdu. Aku terbangun dari lelapku melepaskan segenap rasa lelah yang menerpaku malam tadi. Ku lihat jam di handphone kesayanganku. Ternyata masih jam 3, ku kira sudah subuh tapi ternyata masih adzan pertama, gumamku dalam hati. Ingin rasanya mata tuk terpejam lagi, melampiaskan segenap lelah yang masih menjalar di tubuh. Namun sebelum mata sempat terpejam, tiba-tiba hatiku ingin melaksanakan sholat malam dua rakaat yang biasa disebut dengan sholat tahajjud. Dengan sedikit rasa kantuk yang masih menjalari tubuh aku terbangun dan memantapkan niat. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Dengan semangat ku lantunkan niat sholat tahajjud dua rakaat dalam hati. Waktu sujud aku berdoa, doa yang slama ini aku lantunkan dalam setiap sholatku. Kulantunkan ayat-ayat suci untuk mengobati rinduku pada makhlukNya. Sudah satu tahun lamanya aku menunggunya, dia yang setiap saat kulantunkan dalam setiap doa-doaku. Ya, semenjak saat itu, aku tak lagi bisa menghubunginya, entah sekarang seperti apa kabarnya. Dia lelaki hebat yang sangat aku rindukan. Lelaki yang merubah segala kebiasaan buruk dalam diriku. Lelaki hebat yang tegas dalam setiap ajaranNya, namun aku telah kehilangan dia. Hanya ucapannya kali itu yang membuatku tenang dan aku aminkan dalam setiap doa-doaku. Kembali kuteteskan bulir-bulir bening kala aku mengingatnya.
Satu jam telah berlalu, namun tak pernah aku merasa lelah melantunkan ayat-ayat suciNya. Adzan subuh telah memanggil setiap makhluk yang tertidur. Aku bergegas menuju masjid yang letaknya tak jauh dari rumah.
Menjelang siang, matahari semakin meninggi. Suara burung camar pun menyapaku saat aku bergegas merapikan file-file yang ku butuhkan untuk bimbingan kali ini. Kulihat jam tangan kesayanganku menunjukkan pukul 07.30, aku rapikan data-data yang aku perlukan dan bergegas untuk meninggalkan kamar kos tercinta seraya melajukan motor butut kesayangan menuju ke kampus tercinta.

***

“Zamzami Maulida Abas, silahkan masuk” ucap sekretaris dosen pembimbingku.
“Iya mbak terimakasih” jawabku seraya meninggalkan tempat duduk menuju ke dalam ruangan dosenku.
Satu jam telah berlalu, berbagai hal aku bicarakan dengan dosen pembimbing satu mengenai skripsi yang sedang aku kerjakan. Sebelumnya, namaku seperti yang telah terlihat di atas, Zamzami Maulida Abas umurku sekarang 21 tahun yang sedang menempuh skripsi di perguruan tinggi negeri di luar kota. Aku berpenampilan biasa saja dan cenderung cuek kalau disinggung masalah penampilan. Aku berperawakan mungil dengan pipi tembem hidung sedikitlah lebih mancung dan berkerudung. Tentu saja tak lupa kacamataku yang menambah kesan culun untukku, tapi aku cuek saja. Orang pertama mengenalku pasti mengatakan aku kurang menarik, judes, dan terbilang acuh atau cuek. Namun jika orang yang benar-benar mengenalku maka sudah pasti bilang terlalu cerewet namun ramah. Ya.. singkat saja mengenai aku.
Siang ini matahari lagi tak bersahabat. Matahari sedang bersembunyi di balik awan hitam dan disusul hujan yang turun dengan derasnya, padahal bulan ini sedang memasuki musim kemarau. Terpaksa aku harus menunggu hujan hingga reda karena aku membawa berbagai data penting di tasku sedangkan karena kupikir hari ini lagi cerah maka aku tak membawa jas hujan. Berdiam diri sendirian di lobi graha utama kampusku sudah menjadi hal biasa buatku, ya… aku sudah biasa melakukan apapun sendirian karena tak ingin merepotkan orang lain demi kepentingan pribadiku. Sambil mendengarkan beberapa lagu dari Taylor Swift aku bermain game untuk mengusir rasa suntukku, karena memang sudah hampir setahun lalu aku tidak mempunyai teman untuk ngobrol di sosial media meskipun handpone kesayanganku merupakan termasuk handpone yang canggil di jamanku ini.
Sebenarnya, banyak sekali orang yang mengajakku untuk mengobrolkan beberapa hal yang menurutku sih tidak penting untuk dibahas namun lambat laun mereka kesal padaku karena sikap cuekku hingga tak pernah ada lagi yang menghubungiku. Itu karena hanya ada satu orang yang aku inginkan untuk chatting bersamaku, bukan yang lain. Dia adalah lelaki yang merubahku menjadi wanita yang jauh lebih baik dari kehidupanku yang sebelumnya. Dia yang menunjukkanku berbagai hal kebaikan, yang tak pernah dilakukan orang lain kepadaku kecuali almarhum ayahku waktu aku kecil dulu. Ya, ayahku memang sudah lama meninggal, tepatnya 12 tahun silam saat usiaku baru menginjak 9 tahun. Namun obrolan kami itu sudah lama sekali berakhir, terakhir terjadi pada bulan Oktober tahun lalu namun karena kesalahanku memang, dia tiba-tiba menghilang begitu saja meninggalkan beberapa harapan yang masih menjadi pertanyaan besar dalam hidupku kali ini. Aku sangat menyayanginya. Satu alasan, hanya karena dia sangat mencntai Tuhan dan sangat tegas dalam agama.
Dua jam telah berlalu, namun hujan tak kunjung menunjukkan persahabatannya padaku, padahal ada beberapa hal lain yang ingin aku lakukan hari ini. Terutama untuk melaksanakan tanggung jawabku di organisasi pecinta alamku sebagai penanggung jawab kegiatan bhakti masyarakat. Tapi apa mau dikata, alam lagi tak bersahabat. Rasa kantuk tiba-tiba menjalar di mataku, mungkin karena susana yang memang begitu nyaman jika digunakan untuk tidur, juga karena tadi malam aku hanya tidur beberapa jam saja, guna menyelesaikan beberapa data untuk bimbinganku hari ini.
“permisi mbak,” ucap salah seorang disampingku. Aku hanya memperbaiki posisi dudukku tanpa melihat orang yang sedang duduk di sampingku. “permisi mbak,” ucapnya lagi, dan membuatku kesal. Mengganggu kesenanganku bermain game saja, gerutuku dalam hati. Dengan malas aku menoleh ke arah orang itu.
“iya ada ap…” ucapanku terhenti saat itu. Sungguh tak aku duga, orang yang sedang di sebelahku ini mirip sekali dengan dia. Dia orang yang sangat aku sayangi. Ya.. memang dia dulu adalah alumni kampusku ini, namun aku tahu dia sudah bekerja di salah satu perusahaan di kota tempat tinggalnya. Ku tepis perasaanku itu, karena aku tak yakin itu dia. Aku mungkin sedang menghayal saja. “eh maaf, ada apa ya?” ucapku dengan nada yang seperti biasanya aku ucapkan pada orang lain.
“Ruangannya pak Budi dimana ya mbak?” lanjutnya.
“pak Budi dari fakultas hukum?” tanyaku.
“iya mbak” jawabnya.
“oh, di lantai 4” jawabku cuek dan kembali dengan aktivitasku yaitu bermain game.
“terimakasih mbak” ucapnya seraya meninggalkanku.
“hemm” jawabku tanpa menolehkan mukaku. Kemudian dia pun beranjak pergi meninggalkanku.
Tak lama setelah dia pergi, ku lihat Pak Budi di lobi tepatnya sedang duduk beberapa meter di depanku sedang menerima telephone dari seseorang. Samar-samar beliau memanggil orang yang sedang di telponnya itu dengan nama dit. Ucapannya itu membuat detak jantungku seolah-olah terhenti seketika. Aku kecilkan volume mp3 yang sedang aku dengarkan, dan pandanganku beralih pada pak Budi yang saat itu terlihat sedang menunggu seseorang.
Tak berapa lama kemudian, ada dua orang yang mendatanginya hemm kembali lega perasaanku kala itu. Namun sebelum aku kembali melanjutkan aktivitasku bermain game, pak budi seperti memanggil nama Muhammad Aditya Fatih. Membuat tubuhku bergetar seketika, dan aku mencoba untuk mendongakkan kepalaku. Ternyata benar, orang tadi yang menanyakanku ruangan pak Budi. Aku tercengang, membuat denyut nadiku seakan-akan terhenti seketika. Aku tak peduli pada game yang sedang aku mainkan saat itu telah kalah telak. Pandanganku tak lepas pada pak Budi dan orang yang sedang mengobrol dengan beliau. Tak terasa bulir-bulir air mataku luruh. Ternyata dia benar-benar orang yang aku rindukan selama ini, orang yang aku tunggu kehadirannya, dan sangat aku nantikan menjadi imam di keluarga kecilku nanti. Tapi apakah dia tak mengenaliku? Apakah dia telah lupa denganku? Ataukah dia telah bersama wanita lain yang memang jauh lebih baik dariku? Pertanyaan itu seketika membuat hatiku sakit. Namun aku lihat pada penampilanku kali ini. Aku memakai celana jeans, kaos oblong dengan baju berkerah di luarnya, kerudung polos yang aku pasang biasa saja dan kacamata kesayanganku, sehingga menampilkan kesan culun bahkan sangat culun dan orang yang kenal jauh mungkin tidak bisa mengenaliku.
Ku usap air mataku, kupandangi wajah yang aku rindukan. Aku hilangkan rasa sakit dalam hatiku dan kugantikan dengan perasaan bahagia. Aku bersyukur masih bisa melihatnya, meski dengan tak terduga. Aku tersenyum.
Kulihat di luar gedung, hujan telah reda dan digantikan dengan rintik-rintik. Kuteguhkan hatiku, dan dengan segala kekuatanku aku mencoba berdiri dan  beranjak dari tempatku duduk. Kuahmpiri pak Budi yang memang sudah aku kenal dekat berkat organisasiku. Ku sapa beliau dan sedikit bercanda dengan beliau. Kulirik orang yang berada disebelahnya sedang memperhatikanku.
“Gimana mbak zam kegiatan bhakti masyarakatnya?” tanya pak Budi.
“Alhamdulillah pak, tinggal beberapa surat yang belum saya masukkan ke kecamatan dan polsek setempat, selebihnya sudah disetujui” jawabku dengan senyuman ramah. Aku kemudian meminta izin untuk kembali ke tempat kos ku karena ada beberapa hal yang ingin aku lakukan. Beliau pun mengizinkanku pergi.
Samar-samar aku dengar Pak Budi dan orang di sebelahnya sedang membicarakanku tapi ah aku tak peduli. Dengan berat hati kulangkahkan kakiku untuk beranjak meninggalkan tempat itu. Di tempat parkir, aku kembali tak bisa menahan air mataku. Kerinduanku begitu dalam kepadanya. Setiap bait doa yang aku ucapkan agar aku dapat bertemu dengannya, dan ini adalah salah satu jawabannya.
“Mbak, terimakasih ya” ucap seseorang mengagetkanku. Ku usap air mataku cepat-cepat dan menoleh ke arah orang tersebut. Deg… ternyata itu dia, mas Adit yang sangat aku rindukan. Aku mencoba kuat, aku mencoba untuk pura-pura tidak mengenalinya, hanya senyuman yang aku berikan kepadanya karena bibir pun tak mampu berucap. Kemudian aku beranjak pergi dengan motor butut kesayanganku, meninggalkan dia yang begitu aku rindukan.

***

   Kulantunkan beberapa ayatNya guna mengusir kesedihanku pagi ini. Lantunan ayat-ayat suciNya setelah melaksanakan sholat malam dua rakaat sepertinya sudah menjadi kebiasaanku untuk mencurahkan segenap kerinduanku kepadaNya. Aku masih terbayang-bayang wajahnya beberapa hari yang lalu. Wajah orang yang sangat aku rindukan kehadirannya. Orang yang slama ini tak pernah lepas disetiap ceritaku kepada Tuhan. Aku menghela nafas sejenak mengusir kesedihanku setelah melantunkan ayat-ayat suciNya. Aku mencoba untuk menenangkan fikiranku. Kuhapus segenap kesedihanku dengan terus menyebut namanya, aku berdzikir.
Hari ini adalah hari yang sangat sibuk bagiku. Beberapa jadwal telah aku siapkan, karena hari ini aku akan mengadakan bhakti masyarakat bersama anak organisasiku. Setelah bersih-bersih kamar tidurku, aku bergegas menyiapkan beberapa perlengkapan yang mungkin aku perlukan saat bhakti masyarakat. Setelah semuanya dirasa siap, aku menuju ke sekretariatku dan mengumpulkan anggota-anggotaku untuk menuju ke desa tempat kami akan melakukan kegiatan sosial tersebut.
Perjalanan yang lumayan panjang kami lakukan, dan akhirnya sampai juga ke desa tujuan kami. Salah satu desa terpencil di kota tempat aku menimba ilmu selama hampir 3,5 tahun ini. Beberapa junior dan seniorku terlihat telah mempersiapkan berbagai hal yang akan kami pergunakan nantinya, sedang aku dan ketua panitia kegiatan menemui bapak kepala desa untuk memberitahukan beberapa hal yang akan kami lakukan.
Hari sudah beranjak sore, matahari mulai kembali ke peraduannya. Saat itu aku dan anak-anak organisasi pecinta alamku baru selesai melakukan bersih desa bersama orang-orang desa tersebut setelah siang tadi melaksanakan beberapa penyuluhan tentang kesehatan lingkungan. Kami mengajak warga setempat untuk membiasakan hidup bersih dan memberikan beberapa obat-obatan yang biasa digunakan untuk sakit yang umum terjadi, misalnya panas, pusing, diare, dan sebagainya. Matahari telah benar-benar menghilankan jejaknya, hari sudah beranjak gelap. Sesuai kesepakatan, kami akhirnya menginap di desa tersebut dengan menempati rumah dinas bapak kepala desa yang sedang tidak dipergunakan.
Malam hari, tepatnya setelah sholat isya’ berjamaah kami laksanakan –tentunya untuk anggota yang beragama islam-, kami bergegas menuju ke balai desa. Mempersiapkan proyektor dan LCD serta berbagai macam benda yang akan kami pergunakan untuk memeriahkan desa tempat kami singgah ini. Bebrapa warga mulai berdatangan, mulai dari ibu-ibu rumah tangga, bapak-bapak hingga anak remaja dan para anak-anak kecil. Mungkin memang karena malam itu adalah malam minggu, sehingga mereka bersenang ria untuk datang ke acara kami. Mereka sepertinya menunggu beberapa hal yang akan kami suguhkan. Setelah banyak yang berkumpul, kami memulai acara tersebut dengan berbagai permainan, mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu rumah tangga pun sangat antusias atas permainan yang kami suguhkan. Tiga puluh menit telah berlalu, kami mengganti acara dengan menonton film bersama. Dengan memutarkan beberapa film tentang petualangan. Kami melihat warga pun menontonnya dengan sangat antusias sekali.

***

   Kulangkahkan jejak kakiku menuju gedung graha utama kampusku dengan jantung yang berdebar-debar. Bukan karena kondisiku lagi kurang fit, tapi karena hari ini adalah hari penentuanku setelah menempuh bangku perkuliahan selama kurang lebih 3,5 tahun ini. Subuh tadi aku menghubungi seluruh keluargaku di kampung untuk meminta restu dan doa dari mereka. Keringat dingin membasahi wajahku, ya.. hari ini adalah hari persidanganku atau lebih tepatnya sidang skripsi. Hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa pada umumnya, namun juga yang paling ditakuti, karena ini adalah penentuan. Bibirku tak henti-hentinya menyerukan namaNya, sholawat serta tak lupa aku haturkan untuk rosulku tercinta. Ketika nama dan no indukku dipanggil, aku menghela nafas dalam-dalam, memantapkan tekadku seraya berucap basmalah dalam hati.
Ku ketuk pintu ruang persidangan itu, “silahkan masuk” ucap salah satu pengujiku. Setelah ku buka pintu ruang itu, sedikit ada perasaan lega namun takut juga tak henti-hentinya memasuki diriku. Ternyata pengujiku hari ini adalah beliau yang sangat dekat denganku dan juga ada salah satu dosen yang sering beradu ucap denganku, bukan karena aku bandel namun karena aku sering bertanya tentang beberapa hal yang tidak beliau ketahui.
“Hhhhmmm…” aku menghela nafas dalam-dalam. “siang bapak” sapa ku kemudian dengan penuh senyuman.
“Iya siang juga mbak Zam” jawab pak Wawan, dosen yang sangat akrab denganku.
“Hemmm judul skripsimu sangat menarik” ucap pak Priyanto, dosen yang sering berdebat denganku. “Coba kamu jelaskan secara detail, jangan membingungkan oke” ucapnya kemudian.
“Baik pak” ucapku tegas. Oh iya, hari ini adalah hari penentuanku. Hari dimana para mahasiswa pada umumnya mungkin telah senam jantung, namun hari ini aku berusaha menghadapinya dengan tenang. Rok hitam yang aku pergunakan aku setrika sangat rapi, sepatu fantovel hitam dengan kaos kaki putih menutupi kakiku, tak lupa pula jas almamater kampus dan kerudung hitam menghiasi kepalaku. Aku hari ini berpenampilan berbeda, aku ingin kelihatan menarik di depan dosen pengujiku. Menggunakan beberapa rias wajah yang natural dan melepas kacamataku sejenak untuk menghilangkan kesan suntuk di wajahku. Aku lakukam semua itu karena aku ingin kelihatan rapi di depan dosen pengujiku. “skripsi saya dengan judul Pengaruh Pendidikan Lingkungan Hidup terhadap Perilaku Siswa Kelas Bawah SDN Demangan V ini berisi tentang bla bla blaa…” aku menjelaskan dengan tegas dan detail kepada bapak pengujiku, meski hatiku berdebar-debar, namun aku slalu berdoa dan meminta pertolongan dariNya.
“hemm… menarik juga, namun ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan” ucap pak Rikza, dosen penguji tiga. “begini, ada beberapa hal yang sangat mengganjal disini.. bla bla bla” beberapa pertanyaan oleh beliau dan disusul lagi dengan pertanyaan-pertanyaan lain dari pengujiku yang lain. Namun aku sangat bersyukur, karena pertanyaan tersebut dapat aku jawab dengan mudah. Itu karena aku benar-benar serius mengerjakan skripsi ini dan mengerjakannya dengan penuh tanggung jawab, sehingga apapun yang dipertanyakan kepadaku bisa aku jawab dengan mudah.
“ya sudah, silahkan keluar..” ucap pak Wawan sebelum aku selesai menjelaskan beberapa hal yang beliau tanyakan. Seketika itu aku tercengang dan kaget. Serasa jantungku terhenti seketika. Berbagai pertanyaan menggelayut di fikiranku, hingga aku takut kalau ucapan itu menandakan aku gagal dalam ujian “kenapa diam? Silahkan keluar… skripsimu sangat menakjubkan kami” ucapnya kemudian yang membuat mataku langsung berkaca-kaca. Langsung saja aku sujud syukur di tempat itu, kemudian aku menyalami dosen-dosenku, mereka semua ternyata sangat mendukungku. Kemudian kulangkahkan kakiku ke luar ruangkan dengan ucap syukur yang tak henti-hentinya kepada Pencipta alam semesta. Ternyata perjuanganku slama ini tidak sia-sia, gumamku dalam hati.
Setibanya di kos, aku langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat dua rakaat guna rasa syukurku kepadaNya. Tak henti-hentinya aku berucap syukur dan menyebut namaNya. Menyeruakkan kebesaranNya atas keyakinanku yang slama ini slalu dijawab olehNya. Tiba-tiba aku teringat akan lelaki itu, lelaki yang sudah setahun lebih ada dalam relung hatiku yang paling dalam. Lelaki yang membuat hidupku lebih berarti. Dulu dia slalu menyemangatiku, dulu dia yang slalu menasehatiku jika aku melupakan kebesaranNya, namun kini disaat aku tlah berubah menjadi jauh lebih baik dia tak ada disampingku. Ya Allah dimanakah dia? Apa yang sedang dia lakukan? Aku sangat merindukannya, andai dia saat ini sedang bersamaku, gumamku dalam hati. Ku kuatkan hatiku dan membereskan peralatan sholatku. “alhamdulillah aku lulus” ucapku sembari tersenyum sendiri.
Aku mengaktifkan handpone kesayanganku yang sedari tadi aku non aktifkan agar tak mengganggu konsentrasiku saat persidangan. Beberapa sms masuk dari teman, sahabat dan saudara-saudaraku di pecinta alam menanyakan bagaimana hasil persidanganku tadi. Aku membalas pesan singkat mereka dengan penuh senyuman. Ketika aku ingin menghubungi keluargaku, tiba-tiba ada chatt masuk di salah satu sosial media yang ada di handpone ku dan itu sangat aku kenal. “Mas Didut” panggilan kesayanganku buatnya yang memang dari dulu tidak pernah aku rubah. Aku bagai tak percaya, ku coba untuk tak menghiraukannya namun aku benar-benar penasaran. Ya, dia orang yang slama ini aku rindukan keberadaannya. Lelaki yang telah merubah hidupku. Dengan hati berdebar-debar aku membuka pesan singkat itu, aku buka aplikasi itu dan aku baca pesan singkatnya.
Mas Didut
“Selamat ya J gunakan ilmu yang kamu peroleh selama ini dengan sebaik-baiknya“
Dalam hati aku bertanya-tanya, apa maksudnya ini? Apakah mungkin dia mengetahui yang telah terjadi padaku? Benarkah ini dia? Meski sedikit tak percaya aku pun membalasnya.
Saya
“Iya terimakasih, makasih ya mas atas ucapannya? J namun kamu tahu dari mana mas? Perasaan sudah beberapa bulan ini kita tak pernah saling komunikasi lagi.”
Tak ada jawaban darinya, dan aku pun mengirimkannya pesan kembali kepadanya.
Saya
“mas aku kangen, L
Tetap tidak ada jawaban dari dia, aku pun kecewa. Hemm yasudahlah, mungkin dia sedang sibuk, pikirku. Ku hubungi ibuku dan memberikan kabar bahagia kepada beliau, ucap syukur terlintas di ujung sebrang sana, karena mendengar kabar bahagia ini. Aku menangis seketika, aku terharu mendengar ucap kebanggan ibuku. Kado terindah untuk ulang tahun ibuku maret ini adalah saat wisudaku, ucapku dalam hati. Namun beberapa hal juga yang membuatku sangat sedih, yaitu ketika wisuda nanti, aku tak dapat berdampingan dengan dua lelaki yang sangat aku sayang, yaitu ayahku dan dia tentunya.

***

   Hari demi hari aku jalani dengan biasa saja, dengan orang yang sama, tempat yang sama dan doa yang sama juga. Hampir setiap hari aku melantunkan cerita-ceritaku kepadaNya untuk sedikit menenangkan hatiku dari kerinduan-kerinduanku yang slama ini aku rasakan. Ya, rinduku pada sosok lelaki itu, Muhammad Aditya Fatih.
Hari ini aku berada di barisan paling depan, duduk bersama beberapa teman seperjuanganku yang telah dinyatakan lulus, memakai baju kebaya dengan toga yang menutupi tubuh kami, berdandan bak putri raja yang akan dinikahkan dengan seorang pangeran. Tapi hatiku tak sebahagia itu. Lelaki yang aku harapkan kehadirannya, lelaki yang aku nantikan janjinya entah dimana dia sekarang. Aku dandan bak seorang putri, namun pangeranku samar-samar, atau bisa dikata tak ada. Kulirik beberapa bangku tamu, terdapat beberapa orang tua atau wali mahasiswa yang telah lulus dinyatakan lulus. Ya, tentu saja ini adalah acara wisuda. Kucari orang yang sangat aku sayangi, ibu dan adikku. Mereka tersenyum ke arahku, hatiku pun sedikit lega karenanya. Berbagai rentetan acara telah dilaksanakan dengan baik, bahkan sangat baik tanpa satu kesalahan pun, namun entah mengapa hatiku tak tenang dari tadi. Seperti ada yang kurang.
Selesai acara, aku berkumpul bersama keluargaku. Ternyata mereka yang aku harapkan datang semua. Meski yang memasuki gedung hanya ibu dan adikku, mereka menungguku penuh harap di luar. Sungguh bahagianya, meskipun ada satu orang yang aku harapkan tidak ada saat ini. Mencoba menguatkan hatiku dengan melihat beberapa keluargaku yang menyambut bahagia kelulusanku ini, aku tak mau mengecewakan mereka semua.
Aku berfoto-foto bersama keluargaku. Momen yang tak akan pernah bisa terulang lagi. Aku abadikan beberapa kegembiraanku hari ini, berpose ria bersama sepupuku tercinta, adikku dan dengan ibuku. Hari ini memang sangat bersahabat, awan yang sedikit gelap mengitari kami namun tidak menumpahkan tetesannya ke alam semesta ini. Sejenak aku kembali megingatnya, aku sangat merindukannya, dimanakah dia sekarang Tuhan? Apakah aku masih bisa bertemu dengannya? Hanya harapku kepadaMu agar dia slalu dalam lindunganMu Tuhan.. gumamku dalam hati. Bunyi handponeku mengagetkanku yang saat itu sedang membayangkan wajahnya. Dengan malas aku buka kunci layar handponeku. Ucapan selamat datang dari teman-teman, sahabat, dan juga dari anak-anak organisasiku. Sungguh bahagia hati ini. Namun ada satu pesan yang sangat aku tunggu dari dulu. Aku buka deangan perasaan berdebar-debar.
Maz Didut
“Selamat nggeh wanitaku tercinta, kamu cantik sekali hari ini J
Aku coba mengeluarkan aplikasi chattku itu, dan aku membukanya lagi. Aku tak ingin menghayal yang terlalu berlebih. Aku mencintainya, aku sangat menyayanginya, namun aku tak mau menghayal yang aneh-aneh tentangnya hingga membuat  aku kembali terjatuh. Namun aku menunggunya slama ini, ya.. aku sangat merindukannya. Aku buka kembali pesan singkat itu, ternyata itu benar-benar dari dia, apakah dia ada disini? Tanyaku dalam hati. Segera aku pencet reply di handpone ku dan mengetikkan beberapa pertanyaan untuknya. Belum sempat aku pencet send di layar handphoneku, tiba-tiba di depanku ada tangan yang memberikan bunga mawar untukku.
“Selamat ya, kamu cantik sekali” ucap sang pemberi bunga mawar itu. Aku lihat bunga itu, seraya mendongakkan kepalaku melihat siapa gerangan yang memberikanku bunga. “selamat ya, kamu hebat dan cantik sekali hari ini” ucap orang itu dengan penuh senyuman. Tubuhku gemetar hebat, dan tanpa kusadari air mataku pun luruh begitu saja. “lho kok nangis, inget nggak aku dulu pernah bilang apa? Uda gede gak boleh nangis” ucapnya lagi sambil mengusap air mataku.
“mas Adit?” ucapku lirih seakan-akan tak percaya kalau itu benar-benar dia. Dia yang slama ini aku tunggu, aku nantikan, yang slalu ada dalam doaku.
“Iya, ini aku mas Didutmu, katanya dulu pengen diberi bunga? Ini bunganya kok didiemin aja gak diterima” ucapnya sambil terus memandangiku dengan penuh senyuman. Tak ada yang dapat aku katakan, mulutku seakan-akan kaku, hanya ucap syukurku kepada Tuhan yang telah mempertemukan aku kembali dengannya. Bahkan disaat hari bahagiaku saat ini. Ingin sekali aku memeluk sosok itu, namun aku sadar kalau dia bukan makhramku jadi aku urungkan niat itu. Hanya diam dan terus menangis bahagia. Ya Allah, apakah ini jawaban dari doaku slama ini? Engkau yang Maha Kuasa, gumamku dalam hati.
“Mbak..” panggil ibuku dari tempat kami berfoto bersama tadi.
“Eh iya bu, sebentar” jawabku sambil mengusap air mataku. “ayo mas, aku perkenalkan ke keluargaku” ucapku seraya mengajaknya ke tempat keluargaku. “ini keluargaku mas, ini ibuku, adikku, dan bla bla bla” aku perkenalkan dia dengan orang-orang yang juga sangat aku sayangi.
“oh iya bu, saya Adit” ucapnya sambil menyalami tangan ibu dan keluargaku yang lainnya.
“oh ini toh, yang dulu kamu ceritakan” ucap tanteku dan diiringi dengan seyuman menggoda. Aku pun tersipu malu, sedang mas adit hanya tersenyum sambil curi-curi pandang kearahku.
“Ya Allah aku bahagia” ucapku lirih dan tak henti-henti berucap syukur kepadaNya. Aku pandangi wajah tampan di sampingku ini, orang yang sangat aku rindukan dan aku impikan jadi imamku kelak, dia benar-benar nyata. Dia tak mengingkari janjinya. Bahkan dia mengingat keinginanku untuk diberi bunga mawar olehnya. Hemm itu janjinya dulu, dulu sekali tapi dia masih mengingatnya. Aku pun tersenyum-senyum sendiri mengingatnya. Sementara keluargaku masih berkeliling kampusku untuk melihat-lihat area kampus, aku duduk-duduk di taman kampus bersama mas Adit.
“oh iya gimana kabarmu sayang?” ucap dia membuka percakapan.
“idih, sejak kapan kamu memintaku jadi pacarmu mas?” jawabku
“emm gitu ya, yauda kalau begitu siang ini detik ini aku memintamu untuk menjadi istriku. Will you merry me?” ucapnya sambil memegang telapak tanganku dan menatapku dalam-dalam.
“kamu serius mas?” ucapku tak percaya.
“kurang serius apa aku sama kamu? Kan dari dulu aku bilang aku sayang kamu”
“tapi kenapa kamu tiba-tiba menghilang? Meninggalkan berbagai pertanyaan yang slama ini tak aku dapatkan jawabannya?” tanyaku.
“kan aku dulu ingin melihat perubahanmu dulu, ternyata kamu berusaha keras dan benar-benar telah berubah, aku bangga” jawabnya sambil mengusap kepalaku yang saat itu dibungkus oleh hijab.
“sebelum aku jawab, ada beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab mas” ucapku
“emm ribet kamu, dasar” ucapnya sambil mencubit hidungku. “yauda silahkan tuan putri, apa yang akan anda tanyakan kepada saya?” tanyanya lagi sambil berggaya bagai pelayan yang sedang bicara pada tuan putri.
“ih apaan sih mas,” ucapku malu. “emm, yang pertama darimana kamu tahu saat itu aku sedang sidang dan telah lulus? Yang kedua, seperti saat itu, dari mana kamu tahu juga aku sekarang  wisuda? Bahkan kamu bilang aku cantik. Apakah dari tadi kamu memang sudah mengetahui keberadaanku? Dan yang terakhir kenapa kamu menghilang slama ini? Padahal kamu tahu aku sangat membutuhkanmu, aku merindukanmu”
“emm panjang juga pertanyannya, hehehe” ucapnya “yang pertama, aku tahu kamu sidang skripsi waktu itu karena ada beberapa temanku yang memang berteman juga denganmu mengetahui itu, dan dia mengatakan sidangmu sukses. Makanya aku mengirimimu beberapa pesan. Namun maaf aku gak bisa balas pesan balasanmu hehe, aku sengaja sih” lanjutnya.
“kok jahat sih mas, dasar” ucapku ngambek.
“ih.. jangan ngambek dulu dong, mau dilanjutin gak jawabannya?”
“emm, iya deh hehehe”.
“yang kedua, aku tahu wisudamu kali ini karena pak Budi. Kamu masih ingatkan pertemuan kita yang tidak sengaja waktu di lobi? Pertama memang aku tidak mengenalimu karena penampilanmu telah berubah, namun karena pak Budi memanggilmu dengan nama asli yang sangat aku kenal maka aku dapat memastikan kalau itu kamu, dan di parkiran ketika aku berterimakasih itu aku sudah tahu kalau itu kamu dek, maaf ya..” dia diam untuk beberapa saat dan melanjutkan ucapannya kembali “aku dari tadi sudah disini, bahkan aku tahu ketika kamu maju ke depan tadi. Kamu sangat cantik sekali hari ini dan aku sangat bahagia melihatmu lagi.”
“kok jahat gitu? Terus untuk alasan apa kamu tak memberi kabar sama sekali? Dan tak membalas pesanku kala itu?”
“idih, dasar loading lama” ejeknya. “aku emang sengaja gak bales, yang pertama karena aku memang gak mengharapkan balasan apa-apa, yang kedua karena aku sibuk. Terus, aku sebenarnya bukan menghilang, namun aku hanya memantapkan hatiku aja. Aku ingin melihat kamu berubah dulu, aku ingin kamu tidak lagi manja, bisa mandiri dan mengontrol hidupmu meski tanpa aku. Aku ingin itu semua demi kebaikanmu, dan karena aku yakin kamu juga masih sangat menyayangiku makanya aku kesini.” Jelasnya. “jadi gimana ini? Diterima atau tidak?” tanyanya kembali.
“kamu pasti sudah tau jawabannya mas, tanpa harus aku ucapkan. Kamu tahu aku masih sangat menyayangimu. Dari dulu aku menunggumu, aku merindukanmu menjadi yang halal buatku” jawabku sambil tersenyum.
“alhamdulillah” ucapnya sambil mencubit pipiku.
“ih… sakit tau mas.. dari tadi main cubit, bedakku luntur ini gimana? Hehehe” ucapku manja seraya menyenderkan kepalaku di bahunya.
Hari ini adalah hari paling membahagiakan buatku. Tuhan telah menjawab setiap doaku. Aku teringat salah satu ayat dari surat Ar Rohman yang artinya “Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang akan kamu dustakan?” ya, ayat itu benar-benar nyata. Beberapa kali bahkan sudah terlalu banyak aku diberi nikmat olehNya. Sudah terlalu banyak doa-doaku terjawab. Terimakasih Tuhan.. ucap syukurku selalu aku panjatkan untuknya.
Dihari bahagiaku, yah… dibulan yang sama ketika dia tiba-tiba menghilang, satu tahun lalu. Namun kali ini dia datang bukan tuk pergi lagi. Bagai penyu yang telah dilepas dan akan kembali ke tempatnya menetas untuk kembali bertelur. Tuhan menyimpan segenap rahasiaNya untuk membuat hambaNya lebih kuat, lebih tegar. Tuhan tahu kapan Dia akan mengembalikan sesuatu yang hilang, Dia tahu bagaimana kehidupan hambaNya akan lebih berarti, Dia menyimpan segenap rahasia untuk membuat hambaNya jauh lebih bahagia dari yang diinginkan. Keyakinanku pun kembali terjawab kali ini.



Jhamie 08/03/15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar